
Awal Blog

“Jangan pernah biarkan ‘mereka’ merubah diri kita,
dari siapa diri kita yang sebenarnya!
Menjadi Putra Indonesia merupakan kebanggaan
yang tak perlu diungkap.
Karena pujian dan caci maki
hanya abadi dalam ungkapan,
akan tetapi pengorbanan dan perjuangan
akan abadi dalam sanubari rakyat Indonesia”.
-qahar-
Saat ini tiada manusia yang mampu menjadi diri “aku”nya sendiri. Kita telah terkonstruk untuk berdiri diatas persepsi orang lain. Semenjak kita dilahirkan nilai baik dan buruk; benar dan salah telah ditanamkan sedemikian rupa sehingga mengalami internalisasi nilai yang membentuk karakter diri. Padahal bila kita hendak berpikir kritis maka sesungguhnya banyak hal yang berada disekitar kita yang patut digelisahkan.
Agama dalam tataran realita ternyata tidak mampu mengentaskan kemiskinan dan menjadi alat perlawanan terhadap penindasan. Etika sosial tidak mampu mengentaskan korupsi yang telah menjadi akar budaya bangsa ini. Belum lagi permasalahan pendidikan yang hanya mempersiapkan dan mengantarkan bangsa ini menjadi budak dan buruh. Dari tingkat direktur hingga pekerja kasar, semuanya merupakan budak dan buruh pemilik modal. Ingatlah! bahwa kesejahteraan tanpa keadilan adalah penindasan.
Blog ini hadir untuk berbagi kegelisahan yang aku rasakan. Semoga kegelisahanku mampu menggugah kegelisahan teman-teman semua. Karena menjadi gelisah itu indah. Semoga apa yang aku rasakan tidak hanya berhenti pada tataran kegelisahan, melainkan mampu memberikan kekuatan untuk melawan. Dengan atau tanpa teman-teman yang kan menemaniku. Aku tahu, tidak semua orang mampu dan mau melepaskan fatamorgana kemapanan yang dirasakan. Dan aku meyakini, kesempurnaan doa terletak pada perjuangan yang dilandasi komitmen dan keikhlasan.
Manusialah yang menciptakan sejarah. Manusia pula yang kuasa dan tak berkuasa untuk memilih sejarah mana yang akan dihadirkan dalam kehidupan. Blog ini merupakan blog kedua, perbaikan dari sebelumnya. Selalu ada harapan dalam setiap kejadian, seperti halnya mimpi yang pantas untuk diperjuangkan dalam ruang-ruang ketertindasan. Dan ada kalanya mengalami pasang surut kegelisahan, tapi.. kegelisahan tetaplah sesuatu yang indah. Keindahannya mampu untuk terus memaksa kita bergerak, dan mencari kebenaran.
Eko Prasetyo, dalam bukunya Jadilah Intelektual Progresif, menuliskan pertemuan imajiner dengan Che Guevara dengan amat mempesona:
“….Berdiri dan lihat apa yang bisa kau perbuat untuk mereka yang miskin. Tulisanmu memang menyulut, tapi itu saja tidak cukup!….Apa kau tidak malu melihat ini anak muda. Perutmu kenyang. Kamarmu penuh buku. Bajumu licin berseterika….mereka hidup terlunta. Kau pikir dirimu tak terlibat dengan kondisi kejam ini? Kau seorang terpelajar yang dibesarkan oleh ide, nilai dan gagasan raksasa. Tapi itu semua tak membuatmu berani merubah keadaan….Yang kulihat sekarang bukan gerakan, tapi kumpulan penakut yang berambisi besar. Mereka lupa gerakan tak dibentuk semata-mata dengan uang, tapi pandangan tunggal tentang masalah! Kalian tak tegas melihat persoalan….Sudah waktunya kau berfikir, tentang gerakan perlawanan yang sesungguhnya.” (2007:118-119)
Aku ucapkan terima kasih kepada teman-teman Gerakan Intelektual Baret Merah atas kegelisahan dan perjuangan yang kita rintis, IMM Cab. Sukoharjo selaku rahim intelektual-gerakan yang melahirkanku, teman-teman Ikmas yang bersedia menerima aku apa adanya, santri-santri PPMI Assalaam yang memberikan inspirasi, Mas Hamdan dan Fauzi yang telah mengajarkan banyak hal, dan terutama kepada Ayah, Ibu ‘n Adikku. Untuk mereka semua tiada hal yang dapat kupersembahkan selain do’a di sela sujudku kepada Tuhan dari sang Reformer Sejati Muhammad saw, Allah swt. Dan keyakinanku… bahwa perubahan lebih baik akan terjadi.
Special Blogroll
| Poetra Boemi | Faiz Manshur | Andi Nasution | Coen H. Pontoh |
| Wibi Sastro | Fakhrurrozy | Robert Manurung | Inside Indonesia |
My Blogroll Friends







