
Menjadi Gelisah itu Indah…
November 1, 2007Saat ini tiada manusia yang mampu menjadi diri “aku”nya sendiri. Kita telah terkonstruk untuk berdiri diatas persepsi orang lain. Semenjak kita dilahirkan nilai baik dan buruk; benar dan salah telah ditanamkan sedemikian rupa sehingga mengalami internalisasi nilai yang membentuk karakter diri. Padahal bila kita hendak berpikir kritis maka sesungguhnya banyak hal yang berada disekitar kita yang patut digelisahkan.
Agama dalam tataran realita ternyata tidak mampu mengentaskan kemiskinan dan menjadi alat perlawanan terhadap penindasan. Etika sosial tidak mampu mengentaskan korupsi yang telah menjadi akar budaya bangsa ini. Belum lagi permasalahan pendidikan yang hanya mempersiapkan dan mengantarkan bangsa ini menjadi budak dan buruh. Dari tingkat direktur hingga pekerja kasar, semuanya merupakan budak dan buruh pemilik modal. Ingatlah! bahwa kesejahteraan tanpa keadilan adalah penindasan.
Blog ini hadir untuk berbagi kegelisahan yang aku rasakan. Semoga kegelisahanku mampu menggugah kegelisahan teman-teman semua. Karena menjadi gelisah itu indah. Semoga apa yang aku rasakan tidak hanya berhenti pada tataran kegelisahan, melainkan mampu memberikan kekuatan untuk melawan. Dengan atau tanpa teman-teman yang kan menemaniku. Aku tahu, tidak semua orang mampu dan mau melepaskan fatamorgana kemapanan yang dirasakan. Dan aku meyakini, kesempurnaan doa terletak pada perjuangan yang dilandasi komitmen dan keikhlasan.
Aku ucapkan terima kasih kepada teman-teman Gerakan Intelektual Baret Merah atas kegelisahan dan perjuangan yang kita rintis, teman-teman Ikmas yang bersedia menerima aku apa adanya, santri-santri PPMI Assalaam yang memberikan inspirasi, seseorang yang menjadi kekuatan dan sandaran kegelisahanku, Mas Hamdan yang telah mengajarkan banyak hal dan terutama kepada Ayah, Ibu ‘n Adikku. Untuk mereka semua tiada hal yang dapat kupersembahkan selain do’a di sela sujudku kepada Tuhan dari sang Reformer Sejati Muhammad saw, Allah swt.





