h1

Makna Menjadi Mahasiswa

February 3, 2008

Menjadi mahasiswa merupakan menjadi kelompok menengah dalam kerangka sosiokultur masyarakat. Hal ini tidak terlepas penempatan posisi seorang cendekia dalam strata sosial masyarakat Indonesia; dalam jenjang pelopor perubahan dan penentu sejarah masa depan. Sebuah posisi yang tidak mungkin dilakukan oleh mereka yang tidak memiliki pengetahuan dan keilmuan mumpuni. Tidak pula oleh mereka yang telah terjebak dalam kutub-kutub kekuasaan dan modal yang telah menciptakan ruang pemisah dengan kearifan lokal.

Menjadi mahasiswa juga memiliki makna menjadi manusia “aku” yang bebas. Masyarakat memandang melalui persepsi psikologis mengenai masa “mencari jati diri”. Sebuah masa peralihan antara remaja menuju dewasa. Masa mencari jati diri kemudian diidentikkan dan dilekatkan pada pengertian masa yang penuh dengan gejolak jiwa, kegamangan, emosional, irasional, non-normatif, dan tidak bertanggungjawab. Nilai-nilai baru yang terdapat dalam dirinya tidak lagi melalui proses indoktrinasi semata, melainkan internalisasi nilai melalui penilaian reflektif. Membandingkan, mempertentangkan dan mengakulturasikan antara nilai-nilai (norma, agama, etika dan budaya) yang pernah didapat dengan kenyataan sosial yang sedang dialami.

Penilaian reflektif akan menghantarkan mahasiswa dalam menentukan sikap dalam berinteraksi. Interaksi dengan teman sepergaulan, kuliah, pacar, masyarakat dan bahkan orang tua. Penilaian reflektif merupakan gejolak pemikiran antara pengetahuan yang dimiliki, realita yang terjadi dan keinginan dalam hidup. Tingkat pengetahuan lebih ditentukan pada minat dan individuasi yang dimiliki. Sebagian mahasiswa merasa cukup dan puas dengan mendapatkan kuliah disipliner pada satu bidang ilmu dan penjelasan dosen yang diberikan. Mahasiswa dalam kategori ini mencoba untuk menemukan korelasi linier antara keterangan dosen dengan nilai yang akan didapat. Sementara sebagian -kecil- mahasiswa merasa kuliah disipliner dan keterangan dosen bukan merupakan ilmu dan pengetahuan yang mampu memuaskan dirinya. Mahasiswa kategori ini akan mencari sumber-sumber ilmu dan pengetahuan yang didapat melalui buku, majalah, pelatihan, diskusi maupun seminar. Sebagian lainnya, menjadi mahasiswa hanya untuk gengsi dan kebanggaan. Merasa untuk tidak perlu repot dalam perkuliahan karena bukan itu yang akan menentukan nasib dan masa depan dirinya. Dua faktor penunjang terbentuknya tipologi mahasiswa kategori ini, pertama karena orang tua sudah mapan bahkan sangat mapan dalam hal ekonomi, kedua karena memahami secara berlebihan bahwa perkuliahan hanya untuk memenuhi kebutuhan dunia industri akan ‘pekerja’.

Pengamatan dan penilaian terhadap realita yang terjadi dimasyarakat merupakan penilaian reflektif yang berangkat dari adanya pertentangan antara norma, ilmu dan pengetahuan yang dimiliki dengan kenyataan yang terjadi. Sehingga tingkat penilaian reflektif lebih dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dimiliki mahasiswa; karena kenyataan yang terjadi dimasyarakat berada pada dataran dimensi yang sama. Kenyataan mengenai adanya korupsi sementara berjuta rakyat berada dalam kemiskinan, masyarakat berlomba-lomba membeli kendaraan baik mobil maupun motor sementara banyak nelayan yang tidak bisa melaut karena tidak mampu membeli bahan bakar, pertumbuhan industri yang begitu pesat sementara pengangguran banyak terjadi, dan pelbagai kenyataan yang pada umumnya telah diketahui.

Dalam menyikapi kenyataan semacam ini, mahasiswa dapat dipetakan dalam beberapa kategori. Pertama, mahasiswa akan bersikap tidak peduli dan memandang kenyataan semacam ini merupakan sebuah keniscayaan yang meski, dapat dan bahkan harus terjadi sebagai dampak kemajuan modernisasi yang tidak dapat diikuti oleh rakyat miskin, tertindas dan tidak mampu. Mereka merasa cukup untuk dapat menikmati fasilitas yang disuguhkan oleh modernitas tanpa perlu merasa bingung dengan kenyataan sosial yang terjadi. Kedua, mahasiswa tahu bahwa hal ini tidak layak dan sepatutnya terjadi. Dimana kesejahteraan hanya dimiliki oleh segelintir orang sementara sebagian lainnya berada dalam ketidaksejahteraan. Mahasiswa merasa prihatin dengan kenyataan sosial yang terjadi, namun lebih bersikap pasrah dan merasa belum mampu untuk merubah; untuk tidak mengatakan tidak mampu dan tidak mau merubah. Ketiga, mahasiswa yang berani mengambil sikap untuk melakukan perubahan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Beberapa kegiatan yang biasanya dilakukan seperti demonstrasi menentang kebijakan yang tidak memihak rakyat tertindas dan miskin, melakukan advokasi membantu masyarakat (petani, nelayan, buruh dll) dalam memperjuangkan hak-hak yang seharusnya didapatkan dan atau melawan kesewenang-wenangan dunia industri (baca: modal dan kekuasaan) dalam mengeksploitasi sumber daya alam.

Pengetahuan dan kenyataan yang terjadi merupakan faktor-faktor yang berada diluar diri mahasiswa. Artinya bahwa mahasiswa yang menentukan seberapa jauh dan banyak; pengetahuan dan kenyataan tersebut akan mempengaruhi dirinya dan sikap yang terbentuk. Kemampuan mahasiswa tersebut terumuskan dalam nilai-nilai yang telah ia dapat sebelumnya. Nilai yang didapat dalam keluarga, jenjang sekolah sebelumnya maupun lingkungan sosial. Namun, nilai-nilai tersebut tidak lagi menjadi entitas utama. Entitas utama yang menentukan ialah keinginan. Keinginan tersebut merupakan proses penempatan diri mahasiswa dalam pergolakan pengetahuan dan kenyataan.

Hal ini-pun dapat dibagi dalam tiga kategori. Pertama, mahasiswa akan menikmati fasilitas modernisme yang disuguhkan pada dirinya. Entah karena berangkat dari keluarga mapan ataupun karena sikap ketidakpedulian yang mendalam. Mereka merasa cukup dengan berhura-hura dan memiliki fasilitas penunjang layaknya golongan the have. Bahkan tidak menutup kemungkinan terjebak dalam kehidupan “kota” yang identik dengan diskotik, pergaulan bebas, dan narkoba. Kedua, mahasiswa yang memilih untuk serius bergelut dalam kuliah dengan asumsi bahwa mendapatkan nilai yang baik kemudian mempermudah mendapatkan pekerjaan dan hidup nyaman. Setidaknya memiliki peluang lebih besar untuk melakukan perubahan nantinya. Atau tidak terjebak dalam salahsatu calon rakyat miskin dan tertindas. Ketiga, mahasiswa yang memiliki keinginan kuat untuk merubah keadaan dan menyadarkan masyarakat umumnya bahwa kenyataan yang terjadi bukan karena suatu keniscayaan yang meski terjadi, melainkan rusaknya sistem dan lemahnya kontrol. Mengambil sikap untuk progresif beserta dengan resiko yang mengiringi didalamnya.

Internalisasi Nilai ialah Perbuatan

Mahasiswa memiliki kesadaran untuk dapat mengambil sebuah pilihan yang terbaik. Namun, internalisasi nilai bukanlah sesuatu yang berada dalam tataran pemikiran dan imajiner, melainkan tercermin dalam perilaku dan perbuatan. Kesalahan mahasiswa pada umumnya merasa cukup dalam proses pemikiran, harapan dan sebatas keinginan namun tidak ditindaklanjuti dalam sebuah perbuatan. Apa yang terbias dalam pemikiran bukanlah internalisasi nilai, ia hanyalah bayang-bayang dari internalisasi nilai itu sendiri.

Sosok internalisasi nilai yang sesungguhnya dapat diamati, dianalisa dan dikritisi. Karena ia terwujud dalam keseharian, teralokasi dalam tingkah laku dan tersiratkan dalam ucapan. Dan internalisasi nilai bukanlah suatu proses yang hanya terdapat dan berhenti pada jenjang peralihan remaja menuju dewasa. Melainkan kesinambungan proses diri “aku” dengan “mereka” dalam lingkungan masyarakat. Tidak hanya dengan segala sesuatu yang organik namun juga anorganik.

Tulisan ini bukan ditujukan untuk menganalisa lebih jauh mengenai dampak, premis penyusun, dan faktor masukan terhadap sikap-sikap mahasiswa. Hal ini akan membutuhkan analisa kritia dan penelitian yang lebih lanjut dan mendalam. Tulisan ini disuguhkan sebagai upaya pemetaan terhadap kategori mahasiswa yang penulis amati dalam preposisi gambaran secara garis besar. ***

qahar@maret 2006

Leave a Comment