h1

Sikat Habis Kaum Tua Pengkhianat

February 3, 2008

Jalan Revolusioner Kaum Muda

Pak tua sudahlah
Engkau sudah terlihat lelah
Pat tua sudahlah
Kami mampu untuk bekerja
– Pak Tua, Iwan Fals -

For they have their own thoughts
You may house their bodies but not their souls
For their souls dwell in the house of tomorrow,
which you can not visit, not even in your dreams
– On Children, Kahlil Gibran -

Muhammadiyah sudah terlalu lamban dalam merespon dinamisnya permasalahan zaman. Tidak berani mengambil sikap dan posisi untuk membela kaum mustadl”afin. Geliat Muhammadiyah untuk berselingkuh dengan kekuasaan sudah menjadi rahasia umum. Terlebih, Muhammadiyah tidak lagi dimaknai sebagai alat perjuangan melainkan proses untuk mencapai kemapanan. Tubuh Muhamamdiyah kini sudah “gemuk” dengan jutaan anggota maupun jutaan keuntungan amal usahanya. Tapi siapa bilang Muhammadiyah berani bersikap?! Tetap duduk dan diam memandang perubahan merupakan sikap Muhammadiyah.

Big is beautiful, jargon itu cuman ada di layar lebar tapi tidak di realita. Katanya sih Muhammadiyah merupakan salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia. Besar What?! Besar strukturnya atau besar fungsinya? Jelas-jelas ratusan bahkan ribuan TKI yang didzolimi, Muhammadiyah diam aja. Melalui media digambarkan subsidi BBM hanya dinikmati orang kaya sehingga harus dikurangi. Apa ga punya otak? Jelas-jelas sebagian besar rakyat kita bukan orang kaya, melainkan orang miskin yang semakin miskin. UU Pornografi merupakan sebuah objektifikasi Islam dalam tatanan sosio-kultur masyarakat dan Muhammadiyah lagi-lagi hanya berkomentar. Tidak berani bersikap dengan mengeluarkan surat keputusan bahwa seluruh warga Muhammadiyah harus mendukung keberadaan UU tersebut.

Siapa sih yang tidak akan memaklumi bahwa saat ini kader persyarikatan dapat “hidup” dari Muhammadiyah?. Konteks pengertian, Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan hidup dari Muhamamdiyah, tidak lagi dapat kita posisikan sebagaimana makna tekstual. Apakah perlu mengambil hak-hak mereka yang seharusnya dapat disantuni demi “hidup” kaum tua Muhammadiyah? Kaum tua tersebut seharusnya mengencangkan ikat pinggang agar rakyat miskin dapat merasakan pendidikan, memiliki penghidupan, layanan kesehatan yang layak. Kelayakan sebagai seorang manusia, bukan stigma kelayakan ala orang miskin.

Muhammadiyah perlu tangan-tangan muda yang dapat berjuang dan menggantikan kaum tua yang mulai lelah. Muhammadiyah hanya dijadikan kendaraan politik dan sarana untuk mendapatkan penghidupan yang mapan. Sementara berjuta-juta rakyat Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, kaum tua Muhammadiyah sibuk konsolidasi internal. Katanya demi kepentingan rakyat dan bangsa, tapi rakyat yang mana? dan bangsa siapa?.

Menurut Julian Benda seorang cendekiawan tidak sepatutnya untuk turun dalam ranah praksis apalagi pragmatis. Kaum tua sudah terlalu lelah, ompong dan tidak visioner. Bukan pemimpin semacam ini yang akan menjadi pemimpin bangsa. Melainkan kaum muda idialis yang jujur terhadap nuraninya untuk belajar membedakan yang haq dan bathil, serta berani mengatakan yang benar dan objektif meskipun itu pahit.

Kaum muda Muhammadiyah tidak sepatutnya hanya berdiam diri, berharap dan hanya berdoa bahwa perubahan akan terjadi di tubuh Muhammadiyah. Perlu diingat bahwa struktur fungsional hanya dapat dirubah dengan jalan revolusioner. Ini bukan sebuah pilihan bagi kaum muda, melainkan suatu keharusan bertindak. Karena Muhammadiyah kini hanya diisi oleh cendekiawan-cendekiawan pengkhianat.

Perubahan yang dilakukan oleh struktur akan menciptakan sistem baru yang tidak jauh berbeda, bahkan lebih stagnan. Kedamaian yang tercipta tanpa keadilan adalah tirani. Mengapa harus jengah dan takut? Kaum tua sudah berani berselingkuh dengan kekuasaan pragmatis, melacuri intelektual mereka sendiri dan menjadi budak kepentingan partikular. Kebangkitan kaum muda untuk menyikat habis kaum tua merupakan upaya memutuskan mata rantai kemunafikan dalam tubuh Muhammadiyah.

Kaum muda harus menghancurkan menara gading Muhammadiyah, agar kaum-kaum tua melihat kenyataan kehidupan dibalik trotoar. Kaum muda bukanlah Ken Arok di negeri sendiri, melainkan Gajahmada yang akan menyatukan dan mensejahterakan Nusantara. Menolak tunduk pada tirani dan bangkit melawan, karena diam adalah pengkhianatan. ***

(Diterbitkan di buletin Trotoar ed. 2, Gerakan Intelektual Baret Merah)

Leave a Comment