
Posisi Intelektual Kita
March 21, 2008Tulisan pada kategori ini sebenarnya bersisi semacam catatan harian yang reflektif. Akan tetapi, dengan banyaknya kesibukan, mungkin ini yang pertama langsung ditulis secara online. Maklum, terkadang sebagai aktivis, kita dituntut untuk “sok” sibuk mengurusi urusan yang konon belum tanggungjawab seorang mahasiswa. Berani, bertanggungjawab, tekad dan ketulusan.
Berbicara tanggungjawab mahasiswa, tidak dapat dilepaskan dari kerangka paradigmatik mengenai posisi intelektual. Banyak pandangan yang menyelimuti keberadaan kaum intelektual di negara berkembang, utamanya Indonesia. Saya bahwa terdapat tiga pandangan utama mengenai intelektual di Indonesia. Pertama, Intelektual ala Harry Jualian Benda yang mengutuk keras peran kaum intelektual dalam arus kekuasaan politik. Dalam bahasa Arif Budiman, intelektual adalah seorang pertapa yang bilamana kondisi membuatnya gelisah ia akan turun gunung untuk memberi nasihat pada penguasa. Kritik utama pada pandangan ini, sejauh mana seorang “pertapa” memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk dapat mengubah keadaan? Atau hanya cukup sebagai penonton bola saja? sementara permainan tetap berjalan tanpa satu komentarpun sempat didengar?
Suatu kali saya pernah terlibat diskusi dengan seorang teman mengenai hal ini. Apakah -misalnya- posisi Syafii Maarif dan Franz Magnis Suseno dapat dikatakan dalam kategori intelektual ini? Sebenarnya tidak juga, mereka adalah bagian dari kekuatan dan memiliki kekuasaan atas organisasi atau kolektifitas sosial tertentu. Tidak tepat dikatakan pertapa, melainkan Begawan (guru besar/ terhormat). Ia adalah seorang alim sekaligus intelektual. Dalam negara berkembang, ia adalah guru sekaligus penggerak sosial. Dengan pemikirannya, yang memiliki pengikut atau kesepahaman oleh publik mendapatkan legitimasi kekuatan dari people’s power. Ini yang dikatakan Kuntowijoyo dalam bukupengantar Zaman Peralihan karya Gie (terbit tahun 2005), sebagai perkembangan penolakan intelektual untuk masuk dalam politik dengan terjun pada LSM atau organisasi sosial lainnya.
Kedua, kaum intelektual dalam terminologi M. Foucoult dari Nietzhe, will to know will to power. Bahwa pengetahuan seorang intelektual merupakan pertumbuhan setimbang atau sejajar dengan hasrat untuk melakukan dominasi dan hegemoni. Bila ia masuk dalam lingkungan politik, gelar keilmuannya adalah mantra untuk dapat menghadirkan doktrin tua mengenai kekuatan -pengetahuan- adalah kebenaran. Dalam ekonomi, analisis statistika mendahului segala asumsi pengambilan kebijakan negara daripada kondisi nyata masyarakat. Itu yang terjadi pasca reformasi dimana para presiden setelahnya berorientasi pada ekonomi makro, dan berharap 200juta rakyatnya untuk “sabar” menahan cobaan. Juga terjadi pada Agustus 2007 dengan impor beras yang kemudian mendapat respon keras oleh masyarakat; serta antara Oktober-November 2007 impor beras ulang secara diam-diam. Yang justru media secara tidak langsung turut menjaga kepentingan tersebut, dengan menyelipkan berita pada halaman kesekian, sementara headline-nya di isi dengan pemberitaan yang tidak menyentuh kebutuhan rakyat.
Ketiga, Intelektual Aktivis. Intelektual ini merupakan pengembangan dari intelektual organiknya Gramsci. Ia boleh saja menjadi intelektual yang berposisi nomor satu dalam organisasi sosial, dengan keberpihakan pada rakyat tertindas; tapi tidak cukup itu saja, ia juga harus berani mengambil tindakan untuk memobilisir massa. Memaksakan perubahan terjadi tidak hanya dengan kekuatan oposisi good governance, tapi menghadirkan kekuatan massa dalam arti yang konkret.
Kembali pada mahasiswa. Tidak dapat dipungkiri bahwa pemerintahan mahasiswa menghadirkan struktur fungsional yang cenderung mapan dalam dinamika intelektual yang seharusnya bergejolak dan membara. Terlebih bila pragmatisme dan hedonisme menjadi pandangan dasar yang tidak disadari berlaku dalam perilaku. Berbicara mengenai anti kapitalisme dan neo-imperialisme tapi tidak mampu menerjemahkan hingga ke ranah terkecil. Berbicara persoalan makro tentang bangsa, tapi tidak pernah mendemo rektorat karena menggusur dan melarang warga sekitar kampus untuk berjualan.
Banyak tokoh seperti Tan Malaka, Misbach hingga Freire dan Gramsci, juga Syariati dan Ahmad Dahlan; memulai perubahan selalu dari hal yang mikro. Orientasi keberhasilan tidak kemudian menjadi makro sejak awal mula, seperti halnya gerakan petani Zapatista yang awalnya lokal kemudian melegenda menjadi inspirator gerakan dunia. Keberhasilan yang terlampau dipuja tanpa kesabaran dan komitmen justru melahirkan mantan aktivis yang kini menjadi pemimpin korup dan amoral.
Satu kata yang ingin saya ungkap, untuk mahasiswa: lawan birokrasi kampusmu!!!





O ya dapat salam dari :
“Sub Commandante Marcos” , Zapatistan forever brother
hehehe
thank..