
Dosen: mantan pelajar, tapi bukan intelektual!!
March 30, 2008Lihat wajah sebagian besar dosen kampus saat ini, yang menetapkan aturan bak raja. Di dalam kelas mereka bersikap acuh dengan menutup dialektika diskusi yang coba di bangun mahasiswa. Bila dosen adalah seorang intelektual, maka wajar kalau kemudian saya bertanya, intelektual macam apa mereka? Mereka bukan intelektual, hanya seorang mantan pelajar dengan gelar akademis dan posisi sebagai pengajar. Jangankan untuk memprovokasi mahasiswanya agar memiliki keberpihakan kepada kaum tertindas; jawaban-demi jawaban yang mereka berikan seringkali tidak jelas. Klaim kebenaran pengetahuan dengan mengatakan “pokoknya..” sering terdengar. Seorang intelektual, memiliki semangat keilmuan untuk belajar, bahkan untuk belajar bersama mahasiswa. Tapi yang terjadi justru dosen seringkali tampil dengan gaya yang membosankan, membaca buku dengan nada datar dan dingin. Sosok pengajar yang provokatif dengan orasinya untuk berpihak pada kaum tertindas, layaknya Ali Syari’ati, hanya menjadi mimpi.
Saya yakin, bahkan dosen-dosen itu tidak banyak yang mengetahui bahwa “ilmu” yang mereka sampaikan seringkali hanya melihat satu perspektif tertentu. Perspektif yang sering digunakan ialah positivisme. Tidak adanya wacana alternatif yang dapat “mengembangkan” keilmuan hingga pada tataran implementasi kehisupan keseharian. Kita berbicara tentang hal besar bersifat makro, tapi lupa pada penindasan dan kegelisahan yang dirasakan menjadi bagian keseharian.
Dosen-dosen kita sibuk dengan aturan-aturan normatif mengenai presensi, penggunaan kemeja dan sepatu, disiplin tugas dan waktu kuliah; daripada membaca buku. Hari-harinya hanya diisi dengan sejarah yang terus berulang. Buku catatan kakak kelas 4 tahun yang lalu, ternyata sama saja tanpa penambahan materi sedikitpun saat ini. Okelah materi intinya tetap, tapi perubahan-perubahan sosial tentunya akan berpengaruh pada sudut pandang masalah yang di jadikan contoh. Tapi ternyata? sepertinya bagi dosen semacam ini, waktu seakan berhenti pada satu titik tertentu yang tidak akan berubah. Mereka lebih menghargai mahasiswa yang masuk menggunakan sepatu, memakai kemeja dan memenuhi presensi 75%. Daripada mahasiswa yang rajin menulis dan kritis. Berani berbagi dalam diskusi dan terus belajar menjadi lebih baik. Kampus kita hanya mampu mencerdaskan mahasiswa dalam takaran nilai maksimal 4. Tapi tidak satupun karakter intelektual berpihak lahir di dalamnya.
Sejarah mengajarkan kita, bagaimana intelektual yang berpihak lahir bukan karena bangku kuliah. Tapi justru lahir persentuhannya dengan realita sosial. Bung Hatta melihat hal ini disebabkan perguruan tinggi lebih berorientasi mencerdaskan mahasiswa, tapi tidak membangun karakternya. Perguruan tinggi akhirnya menjadi menara gading yang tinggi, dengan taraf intelegensia dosen yang rendah. Dalam arti, tidak berproses untuk terus dan terus melakukan individuasi keilmuan.
Sedikit tulisan ini merupakan refleksi terburu.. di tengah waktu ngenet yang semakin larut. Saat kegelisahan sudah sampai di ubun-ubun untuk melontarkan kegelisahan. Ahhh.. aku begitu rindu pada beberapa dosen yang mengajar dengan berteriak-teriak. Memaki mahasiswa yang tidak memiliki kepedulian pada pengemis di depan kampus. Menegur keras mahasiswanya yang menghabiskan waktu di sela-sela kuliah untuk bercanda, dan mengajak mereka berdiskusi tentang apa saja. Aku rindu.. saat belajar banyak hal pada sikap kritis mereka yang kini hilang. Bukan karena mereka diam, tapi banyak dari mereka telah disingkirkan oleh sistem. Tak lagi mengajar.





Belajar adalah suatu proses tanpa henti,
pada hakekatnya setiap hari adalah belajar, dimanapun kita berada merupakan pelajaran yang dapat diambil nilai positifnya…
Ketika kita hanya menganggap belajar merupakan suatu proses yang terstruktur, dan terpatok pada nilai-nilai strukturalis pengajaran yang di bawakan oleh pengajar (baca:dosen/guru) di sekolah, kita sudah terperosok pada suatu ambiguitas pembelajaran, dimana arah dan tujuan kita belajar menjadi sangat absurd.
Tanyalah motivasi setiap kali anda mengikuti proses pembelajaran ??, adakah konsep pembelajaran yang jelas, atau hanya tuntutan pemenuhan presensi atau upaya untuk mendapatkan nilai semata ???
Sikapilah sistematika pembelajaran anak bangsa ini, jangan ikut terlarut dalam hegemoni pendidikan yang di bentuk hanya untuk kepentingan sekelompok orang!! dan bahkan jika anda seorang pengajar, tanyakanlah pada diri apa motivasi anda mengajar ??,
Reformasi Pendidikan Indonesia,
Education for All..
Hanya doa yang dapat disampaikan:
Allahuma Sholi’ Ala Muhammad wa ‘ala ‘ali Muhammad, kamma sholaita ‘ala Ibrohim wa ‘ala ‘ali Ibrohim. Wa ‘barik ‘ala Muhammad, ‘wa ‘ala ‘ali Muhammad, kamma barokta’ ala Ibrohim wa ‘ala ‘ali Ibrohim. Innaka Hamidu Majjidan.
Ya Allah lindungilah kami dari hati yang tak khusyu, dari do’a yang tak didengar, dari nafsu yang tak terkendali, dan dari ilmu yang merusak.
Ya Allah tunjukkanlah kepada kami; sesuatu itu sebagaimana adanya; tunjukkanlah kebenaran itu sebagaimana adanya kebenaran itu; tunjukkanlah kesesatan dan kesalahan itu sebagaimana adanya kesesatan dan kesalahan itu; tanpa tabir dan tanpa penghalang.
Semoga Allah Swt meridloi dan melindungi segala upaya mengembalikan dan menjayakan Peradaban Islam melalui jalur keilmuan. Melindungi kami dari penilaian tanpa fakta dan nyata dan melindungi kami dari penilaian atas praduga dan sakwasangka yang mengakibatkan kami menjadi orang yang dhzolim. Ampunilah kami ya Allah, aamiiin.