Archive for the ‘Sudut Sastra’ Category
March 28, 2008
Dimana harus ku cari Tuhan?
Adakah Ia bersama mereka yang mangaku hamba
Merasa benar, suci dan tanpa cela
Dari mulutnya tergambar surga
Hanya untuk golongan mereka
Dimana dapat kutemukan Tuhan?
Dalam bilik mereka yang kelaparan
Merasa sakit atas adilnya kehidupan
Dari matanya tergambar neraka
Untuk mereka yang berdiam
Dimana kudatangi cinta Tuhan?
Dalam bangunan yang dibangun Ibrahim
Diluar batas
Kan ku katakan pada Tuhan
Ia bukan pada yang kukenakan
Bukan pada yang kukenal
Bukan pada yang terceritakan
Kan ku katakana pada Tuhan
Ia pada hati dan pikiranku
Pada jiwa dan langkahku
Pada apa yang kurasakan
Bila dengan mengingkari surgaMu
Kan kudapatkan kekuatan dan keberanian
Menegakkan keadilan
Mendatangkan Kesejahteraan
Bila dengan mengingkari nerakaMu
Kan kudapatkan kekuatan dan keberanian
Menghancurkan ketidakadilan
Meluluhlantakkan tebing kemunafikan
Restui aq Tuhan…
Tuk dapatkan kekuatan dan keberanian
Tuk tegakkan Keadilan
Tuk meluluhlantakkan tebing kemunafikan
Posted in Sudut Sastra | Tagged batas, cerita, lapar, mahasiswa, puisi, sastra, tuhan | 1 Comment »
March 14, 2008
kau berhak untuk tidak menerima cintaku
tapi kau tak berhak untuk melarangku
…untuk mencintaimu
bila memang aku tak dapat menjadi orang yang kau cintai
mohon…
ijinkan aku menjadi orang yang kau benci
dengan demikian…
kau akan tetap mengingatku
[sedikit mengutip syair Sapardi]
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
seperti kata…
yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
seperti isyarat…
yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada
Posted in Sudut Sastra | Tagged benci, cinta, sapardi, sastra, syair | Leave a Comment »
March 14, 2008
Adakah kau ciptakan penderitaan
Pada mereka yang tengah kelaparan
Tuk sekedar menjadi cobaan
Dalam hingar bingar kemunafikan
Benarkah Kau hadirkan bencana
Pada mereka yang papa
Tuk sekedar menjadi ceritera
Dalam peluk mesra penuh dosa
Kesedihan ini begitu mendalam
Hingga aku tak mengerti awalnya
Bagaimana ia telah membuatku terdiam
Hingga ku tak sadar semua tlah sirna
Apakah itu makna cinta
Berbagi denganMu saat gelisah
Kembali padaMu saat bersedih
Ataukah itu adalah nista
Ku tak sanggup memandang
Jiwa dalam diriku yang gelisah
Tapi kudengar taluk bunyi genderang
Perlahan menatapku lirih
Posted in Sudut Sastra | Tagged bencana, cinta, doa, kemunafikan, rindu, sastra, syair, tuhan | Leave a Comment »
February 3, 2008
tebuslah diriku Tuhan…
dengan panas selaksa Api Neraka!
apakah kau minta aku bersujud,
dalam pelukan dinginnya malam?
apakah kau ingin aku menangis,
dalam kerinduan yang mendalam?
apakah aku harus tersenyum,
dalam kemesraan merindu?
bukan…
sekali lagi bukan Tuhan!
kan kukatakan pada-Mu dengan doa
kau tak perlu merayuku dengan Surga
apalagi Neraka tuk menyudutkanku
mengapa Kau ciptakan aku Tuhan?!
kan kukatakan pada-Mu dengan doa
aku tak ingin Surga dan kesenangan
bidadari yang membuatku tersenyum
hingga ruang-ruang kesedihan tak lagi dihatiku
hingga aku kan tetap tersenyum Tuhan…
lelah dan terlelap dalam senyuman
melihat mereka yang kesakitan
menangis dan berteriak penuh kebencian
menembus batas penjaga Neraka!
tebuslah diriku Tuhan…
dengan panas selaksa Api Neraka!
kupanjatkan dia untuk N[M]era[e]ka
hujamkan kakiku hingga dasar Neraka terkelam
hingga tak lagi ada ruang tak tersentuh
angkuhkan aku pada langit-langit tertinggi
hingga tak lagi iblis dapat melihatku
tebuslah diriku Tuhan…
dengan panas selaksa Api Neraka!
biarkanlah aku sendiri Tuhan…
dalam panas selaksa Api Neraka!
agar mereka…
dapat tersenyum dalam indahnya Surga
restui aku Tuhan…
dalam panas selaksa Api Neraka!
Posted in Sudut Sastra | Tagged bencana, cinta, doa, kemunafikan, malaikat, neraka, rindu, sastra, surga, syair, tuhan | Leave a Comment »
February 3, 2008
Mungkin aq bisa berbicara bohong pada tuhan
tapi qu tahu Tuhan kan memahamiku
memahami apa yang selama ini menjadi mapan
tidak lagi membuatqu tersenyum
apalagi tertawa bersama kesunyian
Aq yakin aq tak lagi bisa masuk surga
tuhan-tuhan bangsat itu telah mengusirku
bukan karena aq tak seperti mereka
tapi karena aq bukan dari mereka
Menjadi gelisah itu indah Tuhan
kurasakan betapa sejuknya cinta
kuresapi tiap alunan yang memecah keheningan
malam memelukku dalam kehangatan rindu
Terima kasih Tuhan
menjadi gelisah itu indah
di tengah caci maki tuhan
dihadapan panitia surga neraka
satu hal yang kutakutkan
ketika…
kegelisahan ini tak kurasakan lagi
Posted in Sudut Sastra | Tagged bencana, cinta, doa, gelisah, kemunafikan, malaikat, rindu, sastra, senyum, syair, tuhan | 1 Comment »
February 3, 2008
Kutiupkan tiap butir-butir rindu dihatiku
sementara genggamanku kian lemah dan rapuh
kesedihan yang kurasa layaknya bintang
begitu gemerlap, indah dan mengagumkan
tajam dan nanar dalam gelapnya kehidupan
Untuk bulan yang terpaku bisu
aku tau kau lelah menjadi saksi sejarah
melihat tiap ruas keadilan terpatahkan
rongga-rongga kejahatan diperkuat
semut-semut yang tetap mencari makan
meski timpat ia tinggal telah habis terbakar
Ia diam bukan karena membisu
tapi aku yakin bulan tidak pernah ketakutan
atau bulan berselingkuh dalam selimut kegelapan?
bukankah pelukmu dengan bintang menjadi sejarah?
sejarah yang tak pernah kalian ukir
melainkan sejarah yang tetap dikenang
Demi mereka yang menangis dan tertindas
kutundukkan kepalaku padamu,
untuk penguasa yang menindas
kan kutunjukkan angkuh dan kepalanku
dihadapanmu aku akan tegak
Solo, 11 Februari 2006
19.30
Posted in Sudut Sastra | Tagged air mata, bencana, cinta, doa, kehidupan, kemunafikan, rindu, sastra, syair, tuhan | Leave a Comment »
February 3, 2008
Aku tau bahwa mungkin ini bukan jalanku
setiap kali ku ayunkan langkah kecilku
tiap kali itu pula ku merasa perih
aku tersayat dan gelisah dalam pendirianku
mencoba berjalan dalam kegelapan malam
menjadi bintang yang muncul bukan di siang hari
Aku tau bahwa mungkin ini bukan jalanku
menjadi terpandang dan dikagumkan
seakan aku bulan yang selalu mereka idamkan
sementara relung-relung realitas tidak menyatakan yang sama
bukan berada dalam tidak tak tersentuh tapi menjadi
Aku tau bahwa mungkin ini bukan jalanku
ketiadaan bukti bukan merupakan bukti ketiadaan
saat ku pulang tinggal nama
ceritakan perjalanan dan derita yang ku rasakan
bukan derita ketika aku tak makan
bukan derita ketika aku terluka
bukan derita ketika aku terpenjara
… Bukan!!
Aku tau bahwa mungkin ini bukan jalanku
derita mendalam yang kurasakan
melihat mereka mengais sampah
disebelah orang-orang yang makan kekenyangan
melihat mereka menjerit kesakitan
disebelah orang-orang yang berobat keluar negeri karena panu
melihat mereka yang hanya melihat gambar koran
disebelah orang-orang yang menghamburkan uang
Aku tau bahwa aku mengalami kegelisahan
ku mencoba untuk tidak gelisah
pijar matahari membuat mataku terbuka
dan tetap terbuka
tapi aku bahagia aku gelisah
setidaknya ku memiliki sesuatu yang berharga
dan bukan “kemapanan” yang dipertanyakan
Andai aq pulang tinggal nama
ku harap kematianku akan tetap berada di bumi
kegelisahan yang kurasakan
akan membuka mata hati mereka…
yang hidup bukan untuk dirinya
melainkan demi mereka yang dicintainya
Solo, 11 Februari 2006
Posted in Sudut Sastra | Tagged bencana, bulan, cinta, desa, doa, kegelapan, kemunafikan, kota, modernisasi, rindu, sastra, syair, tuhan | Leave a Comment »